| Senyum Bahagia Anak-Anak Desa |
Peristiwa bencana banjir yang terjadi selama merupakan sebuah permenungan dan refleksi yang ditujukan untuk menarik perhatian dan kepedulian semuan insan di bumi ini untuk merefleksikan akan penting dan urgenya air bagi kehidupan, serta pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan serta perlakuan yang lebih santun dan bermartabat terhadap air serta menjadi bagian yang terpisahkan dari kehidupan semua makluk hidup di muka bumi ini.
Ada peristiwa Hari Air Sedunia (World Water Day) adalah hari yang di peringati atau dirayakan sebagai usaha untuk menarik atensi publik masyarakat sedunia ( internasional) mengenai pentingnya air bersih bagi kehidupan dan usaha advokasi untuk melindungi sumber daya air bersih secara berkelanjutan. Ini adalah hari untuk membuat perbedaan bagi anggota pipulasi global yang mengalami masalah terkait air, dan merupakan hari untuk mempersiapkan bagaimana kita mengelola air di masa depan.(di rangkum dari berbagai sumber)
Air adalah sumber kehidupan. Tanpa kita sadari yang terjadi selama ini sadar atau tidak bahwa perlakuan kita terhadap air masih jauh dari harapan. Bencana banjir dan kekeringan silih berganti. Di musim hujan air berkelebihan yang mengakibatkan banjir bandang dimana-mana. Kelebihan air ini dianggap sebagai sumber bencana. Umpatan, cemohan dan rasa tidak aman menghantui kita. Sementara di musim kemarau semua makluk mengeluh, berbagai rirual dilakukan dan berdoa mohon bantuan mujizat dari Tuhan. Air yang menjadi sumber kehidupan berubah dan murka menjadi sumber masalah. Pertanyaan mendasarnya siapakah yang harus kita persalahkan? Air atau manusia? Pertanyaan ini sangat menyesakan dada. Jawaban adalah manusia karena manusia yang di percayakan Tuhan atas semua makluk hidup di muka bumi ini memiliki akal budi dan hati nurani untuk memanfaatkan dan mengelola alam khususnya air yang manjadi sarana dan sumber kehidupan.
Seiring waktu apa yang kita saksikan sekarang? Hutan, sungai dan ngarai menjadi tempat sumbernya di tebas, di bakar serta sungai yang menjadi jalannya aliran air telah di rampas. Garis sepadan sungai tidak ada lagi kalaupun ada hanya sumber literasi perpustakaan saja. Tak ada lagi tempat untuk meresap dan mengalir karena fungsi utamanya sudah dirubah bentuk oleh manusia karena dianggap lebih membutuhkan. Tidak ada lagi ruang dan tempatnya. Hutan-hutan dibakar dan di tebas untuk di habiskan. Pembalakan liar merajai bumi pertiwi. Sungai-sungai di jadikan tempat pemukiman dengan berbagai alasan. Sumber-sumber mata air banyak yang dkuasai oleh korporasi dengan alasan investasi dan ekonomi. Tidak peduli dengan reboisasi dan pemulihan lingkungan alam yang menjadi sumber penghasil air. Silahkan air cari sendiri tempat dan ruangnya. Ruang dan tempatnya "tertindas" oleh keserakahan manusia dengan segala argumentasinya masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar